Tinggalkan Simulator Ferrari, Beri Dampak Besar Bagi Lewis Hamilton
Jayadi
Tim Redaksi
ROADMASTER - Lewis Hamilton mengungkapkan bahwa dirinya masih tidak menggunakan simulator F1 Ferrari, dan keputusan ini justru membawa dampak besar bagi performanya di musim 2026.
Keputusan berani Hamilton untuk mengesampingkan simulator Ferrari telah menjadi titik balik dalam kariernya bersama tim asal Maranello tersebut. Sebelum Grand Prix Kanada bulan lalu, pembalap berusia 41 tahun itu mengakui bahwa pendekatan barunya—meninggalkan simulator—dilatarbelakangi oleh ketidakakuratan data yang sering membawanya pada kesalahan di lintasan.
Musim 2025 menjadi tahun yang sangat berat bagi juara dunia tujuh kali ini. Namun, musim ini cerita berbeda. Hamilton telah meraih lima podium dan kemenangan pertamanya untuk Ferrari di Barcelona. Menjelang Grand Prix Belgia akhir pekan ini, ia menegaskan bahwa dirinya sudah tidak menggunakan simulator Ferrari selama dua bulan terakhir.
"Sangat membantu," ujar Hamilton kepada media di Spa, Kamis (14/7). "Saya sudah mencoba sepanjang tahun lalu, tetapi seperti yang saya katakan, saat di Mercedes pun saya tidak menggunakannya di beberapa tahun awal. Seiring perkembangan, ada titik di mana kami memutuskan berhenti."
Hamilton, yang telah mengunakan simulator sejak 1997, menilai alat ini memang ampuh namun bisa menyesatkan. "Saya menemukan bahwa sepanjang tahun lalu, hal itu terjadi. Begitu saya berhenti, performa saya meningkat drastis," jelas Hamilton.
Saat ini, Hamilton berada di peringkat ketiga klasemen pembalap, hanya terpaut 32 poin dari pemimpin klasemen, Andrea Kimi Antonelli dari Mercedes.
Meski enggan menggunakannya, Hamilton tetap mengakui kualitas simulator Ferrari. "Simulator ini luar biasa, dengan tim hebat. Saya banyak memberi masukan untuk pengembangannya," jelasnya. Namun, ia menekankan bahwa alat ini tidak selalu akurat untuk setiap sirkuit, sehingga ia memilih untuk fokus pada korelasi data setelah balapan daripada menggunakannya sebagai panduan utama.
Keputusan ini, menurut Hamilton, bukanlah keputusan permanen. Ia masih terbuka untuk menggunakan simulator di masa depan, terutama untuk pengembangan tenaga, tetapi untuk saat ini, menjauh dari perangkat tersebut adalah langkah tepat yang mengubah nasibnya di Ferrari.

