Community10 Juni 2026

2 Riders indonesia Touring Menembus Atap Dunia

Gojay

Tim Redaksi

Baca 3 menit
Jelajahi TopikCommunityArsip Berita Terbaru

ROADMASTER – Udara membeku di permukaan kulit, oksigen menipis, dan langit terasa begitu dekat. Inilah yang sehari-hari dirasakan Rial Hamzah dan Adet Vriono saat menjelajahi “Atap Dunia”. Bukan sekadar touring biasa, ekspedisi bertajuk Ride To The Roof Of The World ini sukses mencatatkan prestasi bersejarah bagi dunia otomotif Indonesia.

Setelah mencapai Lhasa, Tibet, pada 17 Mei, tim ekspedisi yang mendapatkan dukungan resmi dari Ikatan Motor Indonesia (IMI) ini kembali mengukir pencapaian luar biasa. Pada 20 Mei, Rial dan Adet tiba di Everest Base Camp North Face serta kawasan Gunung Qomolangma (Everest) dari sisi utara Tibet, China.

Perjalanan menuju kawasan paling ikonik di dunia itu ditempuh melalui Gyawula Pass di ketinggian 5.200 meter di atas permukaan laut. Dari sini, seluruh keagungan Pegunungan Himalaya terbentang utuh, termasuk puncak Everest setinggi 8.848,86 meter.

Namun, mencapai kaki gunung tertinggi di dunia ternyata bukanlah garis akhir. Tim justru melanjutkan petualangan lebih dalam ke jantung dataran tinggi Tibet. Mengambil rute legendaris Route 318 dan Route 317—jalur overland paling spektakuler sekaligus paling menantang di dunia—mereka berkendara dari Shigatse menuju Nagqu, Baqing, Chamdo, hingga Sichuan.

Lebih dari satu pekan, Rial dan Adet konsisten berada di ketinggian 4.500 hingga 5.000 meter di atas permukaan laut. Suhu di bawah titik beku, kadar oksigen jauh lebih rendah dari pegunungan biasa. Gejala Acute Mountain Sickness (AMS) seperti pusing dan sesak napas kerap muncul. Oksigen portabel pun menjadi perlengkapan wajib.

“Di Eropa, salju indah berada di elevasi rendah. Di Tibet, kami menghadapi kombinasi salju, suhu beku, dan ketinggian ekstrem di atas 5.000 meter. Tantangannya benar-benar berbeda,” ujar Rial.

Salah satu momen paling berkesan adalah kunjungan ke Yuexionggou High Mountain Periglacial Wetland Park di Baqing County, kawasan glasial yang baru bisa diakses wisatawan asing dengan izin khusus.

Rial juga menjelaskan, berdasarkan informasi guide resmi, mereka berdua sangat mungkin menjadi rider Indonesia pertama yang mencapai kawasan itu menggunakan motor berplat Indonesia.

Tak hanya tantangan alam, proses birokrasi yang kompleks juga harus dilalui. Tim Indonesia bergabung dengan 11 rider Malaysia dalam satu grup ekspedisi, melewati persiapan berbulan-bulan. Kolaborasi lintas negara ini pun berlanjut hingga momen istimewa: melaksanakan ibadah qurban di sebuah masjid di Chengdu, bersama rider Malaysia keturunan Medan, Adam Malik.

“Perjalanan ini mengajarkan bahwa konsistensi, kesabaran, dan kerja sama tim jauh lebih penting daripada kecepatan,” ungkap Adet.

Hebatnya, selama ribuan kilometer melintasi Malaysia, Thailand, Laos, China, Tibet, hingga kembali ke Asia Tenggara, semua sepeda motor finis tanpa kerusakan mayor. Dukungan sponsor seperti 7Gear, Coriaz Motoadventure, dan Syndicate Motor Indonesia, serta peran IMI melalui Carnet CPD, menjadi kunci.

Rial berharap ekspedisi ini menginspirasi banyak rider Tanah Air. “Rider Indonesia mampu melakukan ekspedisi lintas negara secara profesional dan membawa nama baik bangsa,” tegasnya.

Saat ini, Rial dan Adet masih dalam perjalanan pulang di Laos. Bukan sekadar mencapai Everest, ini adalah semangat petualangan rakyat Indonesia yang mengibarkan bendera Merah Putih di salah satu kawasan paling terisolasi dan paling menantang di muka bumi.